
Foto: Spark
Teknologi.id – Di saat banyak pemimpin dunia masih sibuk membahas regulasi kecerdasan buatan (AI), Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, justru melangkah lebih jauh.Ia tidak hanya berbicara soal AI, tetapi langsung merancang dan membangun sendiri asisten AI pribadi untuk menunjang aktivitas diplomatiknya sehari-hari.
Balakrishnan menyebut sistem tersebut sebagai “otak kedua”. Asisten ini mampu membantu berbagai pekerjaan penting, mulai dari menjawab pertanyaan teknis, melakukan riset cepat, hingga menyusun draf pidato dan memberikan briefing harian.“Sistem ini telah menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya, saya bahkan tidak berani mematikannya!” ujarnya.
Asisten AI Berbasis Komputer Mini
Menariknya, sistem ini tidak bergantung pada server besar atau infrastruktur mahal. Balakrishnan membangunnya menggunakan teknologi open-source yang relatif terjangkau. Salah satu komponen utamanya adalah NanoClaw, asisten AI berbasis model Claude. Sistem ini dijalankan secara lokal menggunakan Raspberry Pi, komputer mini yang ukurannya ringkas namun cukup bertenaga. Dari perangkat kecil ini, AI miliknya bisa terhubung langsung ke berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Telegram, Slack, hingga Discord .
Bikin AI Lebih “Paham Konteks”

Foto: AI Generated
Agar asisten AI-nya tidak mudah “lupa konteks”, Balakrishnan juga menerapkan pendekatan yang dikenal sebagai “LLM Wiki”. Konsep ini dipopulerkan oleh Andrej Karpathy, dan bekerja dengan cara mengumpulkan berbagai dokumen penting seperti draf pidato, artikel, hingga catatan pribadi—untuk dijadikan basis pengetahuan.
Saat menerima pertanyaan, AI akan mencari informasi relevan dari basis data tersebut, lalu menyusunnya menjadi jawaban yang lebih akurat dan kontekstual. Semakin sering digunakan, performanya juga ikut meningkat.
Baca juga: Tanpa Mikrofon! Teknologi AI Ini Ubah Gerakan Leher Menjadi Suara Asli
Privasi Dijaga Ketat
Sebagai pejabat negara, aspek keamanan menjadi perhatian utama. Karena itu, seluruh sistem dirancang agar data tetap tersimpan secara lokal dan tidak keluar ke server eksternal. Proses pencarian data hingga pengolahan suara dilakukan langsung di perangkat (on-device). Selain itu, setiap percakapan dipisahkan dalam sistem tersendiri untuk mencegah kebocoran data. Dengan pendekatan ini, informasi sensitif tetap aman tanpa bergantung pada layanan cloud.
Baca juga: Krisis Literasi Gen Z: Alasan Profesor di AS Terpaksa Turunkan Standar Nilai Kampus
Tren Baru di Dunia Pemerintahan
Langkah Balakrishnan mencerminkan tren yang mulai terlihat di berbagai negara. Di Albania, misalnya, pemerintah telah membagikan asisten AI kepada anggota parlemen, bahkan menunjuk bot AI sebagai bagian dari kabinet.
Sementara itu, Polandia активно mengembangkan teknologi AI dengan membagikan data dan model bahasa ke platform seperti Hugging Face. Bagi Balakrishnan, AI bukan lagi sekadar topik diskusi, melainkan alat kerja nyata yang bisa meningkatkan efisiensi.
Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa di era digital, keunggulan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)