Kini Teknologi AI Bisa Identifikasi Kelainan Genetik dari Wajah Manusia

Kemala Putri . March 13, 2019
AI

Foto: Ars Technica
Teknologi.id - Teknologi Artificial Intelligence (AI) kini dapat secara akurat mengidentifikasi beberapa kelainan genetik langka menggunakan foto wajah pasien, menurut sebuah studi baru. Teknologi AI, yang disebut DeepGestalt, mengungguli dokter dalam mengidentifikasi berbagai sindrom dalam tiga percobaan dan dapat menambah nilai signifikan dalam perawatan pribadi, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine. Studi juga melaporkan kalau 8 persen populasi manusia memiliki gejala genetik yang harus diperiksa dari wajah.

DeepGestalt Sudah Melalui Tahap Uji Coba

Kecerdasan buatan DeepGestalt sudah diuji coba dan terbukti mampu mendeteksi sindrom Angelman. Sindrom Angelman adalah kelainan genetik yang memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan cacat fisik dan intelektual. Gurovich dan tim peneliti juga sudah melatih DeepGestalt untuk memeriksa 17.000 gambar wajah dari pasien yang didiagnosis memiliki penyakit genetik. Dalam uji coba tersebut, DeepGestalt mampu bekerja lebih akurat dan cepat ketimbang ahli klinis dalam memeriksa wajah pasien. Dalam setiap uji coba, DeepGestalt mengungkap daftar penyakit dalam tingkat akurasi mencapai 91%.

Cara Kerja Teknologi AI DeepGestalt


DeepGestalt Deep Convolutional Neural Network architecture. Foto: Medium.com
Teknologi ini bekerja dengan menerapkan algoritma deep learning pada karakteristik wajah dari gambar pasien yang disediakan, kemudian menghasilkan daftar sindrom yang mungkin.
Itu tidak menjelaskan fitur wajah mana yang menyebabkan munculnya prediksi, kata penelitian itu. Untuk membantu para peneliti memahami dengan lebih baik, teknologi ini menghasilkan visualisasi heat map dengan melihat daerah wajah yang berkontribusi pada klasifikasi penyakit.
Semua gambar yang digunakan dalam uji coba adalah dari pasien yang sudah didiagnosis dengan suatu kondisi. Teknologi tidak mengidentifikasi apakah setiap pasien memiliki kelainan genetik, tetapi mengidentifikasi kemungkinan kelainan yang telah didiagnosis.

Baca juga: Minimalkan Resiko Bunuh Diri, Peneliti Kembangkan Pil Anti Kesepian Kronis 

Jorge Cardoso, dosen dari sekolah biomedis King's College London, mengakui kalau teknologi AI ini sangat menarik.
Dia menambahkan, dalam sebuah email ke CNN, bahwa "kumpulan set data medis yang semakin besar dan terkuratori dengan baik telah memungkinkan alat AI untuk memprediksi mutasi genetik dari pencitraan fenotip yang mengurangi beban sistem perawatan kesehatan dan meningkatkan cara kita merawat pasien." Fenotip adalah karakteristik yang dapat diamati. "Ini adalah salah satu pencapaian fantastis kecerdasan buatan yang dapat mengubah harapan hidup manusia. Ketika banyak orang memandang kecerdasan buatan dari sisi negatif, kami justru optimistis DeepGestalt dapat membawa harapan untuk kemanusiaan," kata Peter McOwan, profesor ilmu komputer di Queen Mary University of London, seperti dikutip dari CNN, Rabu (12/03/2019). (DWK)
Share :