
Perkembangan teknologi estetika medis mendorong kebutuhan dokter untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan klinis. Seiring munculnya berbagai metode perawatan, dokter perlu memiliki kesempatan untuk mendalami prosedur estetika tertentu sesuai kebutuhan praktiknya.
Di tengah kebutuhan tersebut, Dermaesthetics Academy menghadirkan pilihan pelatihan estetika medis secara satuan. Program ini memberikan fleksibilitas bagi dokter untuk memilih materi pembelajaran yang ingin dikuasai, tanpa harus mengikuti seluruh rangkaian pendidikan sekaligus.
Melalui program ini, dokter dapat menentukan pelatihan berdasarkan bidang kompetensi yang ingin dikembangkan. Pilihan materi mencakup Botox Basic, Filler Basic, Consultation Mastery, Skin Regenerative, Scar Management, hingga Thread Lift. Beragam course tersebut dirancang untuk memberikan kesempatan kepada dokter dalam memperdalam pengetahuan dan keterampilan pada bidang estetika tertentu.
Direktur Dermaesthetics Academy, dr. Stiven Eli, menjelaskan bahwa pengembangan kompetensi dokter estetika perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, pemahaman terhadap dasar keilmuan dan penalaran klinis menjadi bagian penting dalam mempelajari berbagai prosedur estetika.
“Kompetensi dokter estetika perlu dibangun melalui pemahaman yang menyeluruh, mulai dari dasar biologis hingga pertimbangan klinis dalam menentukan tindakan. Harapannya, peserta paham alasan di balik setiap prosedur sehingga bisa menganalisis kebutuhan pasien dan menyusun pendekatan yang cocok,” ujar dr. Stiven.
Pilihan pelatihan satuan tersebut memungkinkan dokter untuk mempelajari materi secara lebih terarah. Dokter yang ingin memperdalam teknik dasar injeksi, misalnya, dapat memilih Botox Basic atau Filler Basic. Sementara itu, dokter yang ingin mengembangkan kemampuan dalam konsultasi pasien maupun pendekatan perawatan kulit dapat mengikuti Consultation Mastery dan Skin Regenerative.
Selain itu, tersedia pula Scar Management dan Thread Lift yang memberikan kesempatan bagi dokter untuk mendalami prosedur estetika lainnya. Dengan pilihan materi yang beragam, peserta dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan pengembangan kompetensi masing-masing.
Pendekatan pembelajaran ini juga memberikan ruang bagi dokter untuk mengembangkan keterampilan secara bertahap. Setiap pelatihan berfokus pada materi tertentu, sehingga peserta dapat lebih mendalami aspek keilmuan dan penerapan klinis dari prosedur yang dipelajari.
Metode pembelajaran Dermaesthetics Academy menggabungkan praktik langsung (hands-on learning), demonstrasi, dan diskusi klinis. Kombinasi tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk mempelajari prosedur sekaligus memahami berbagai pertimbangan yang memengaruhi keputusan klinis dalam praktik medis.
Menurut dr. Stiven, penguasaan teknologi dan perkembangan metode estetika perlu disertai kemampuan untuk menilai relevansi suatu tindakan berdasarkan kondisi pasien dan prinsip ilmiah yang mendasarinya.
“Kemampuan teknis dan penalaran klinis perlu sama-sama kuat dalam praktik estetika. Karena itu, pembelajaran kami tidak hanya mencakup asesmen pasien dan penyusunan rencana perawatan, tetapi juga demonstrasi teknik tindakan serta diskusi soal berbagai pertimbangan yang memengaruhi keputusan klinis,” kata dr. Stiven.
Selain pilihan pelatihan satuan, Dermaesthetics Academy juga mengembangkan program pendidikan terstruktur yang mencakup 41 modul, mulai dari teori dasar, prosedur klinis, aspek hukum, hingga nutrisi. Akademi ini turut menawarkan program intensif selama tiga bulan atau long course untuk membangun pemahaman biologis dan insting klinis peserta secara bertahap.
Kehadiran program pelatihan satuan dan pendidikan terstruktur menjadi bagian dari upaya Dermaesthetics Academy dalam mendukung pengembangan kompetensi dokter di tengah dinamika industri estetika medis Indonesia. Melalui pilihan pembelajaran yang fleksibel, dokter dapat memperluas pengetahuan dan keterampilan klinis sesuai kebutuhan, sekaligus membangun fondasi kompetensi untuk praktik estetika yang berkelanjutan.