ChatGPT Bikin Lowongan Kerja Turun 13%, Skill Ini Kini Paling Dicari

Irmanon Riandina . May 11, 2026


Foto: Magnific/Freepik

Teknologi.id - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin nyata memengaruhi dunia kerja. Kehadiran AI generatif seperti ChatGPT mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai industri, terutama untuk pekerjaan yang bersifat rutin dan repetitif.

Perubahan ini terungkap dalam penelitian terbaru dari Harvard Business School berjudul Displacement or Complementarity? The Labor Market Impact of Generative AI. Penelitian tersebut dilakukan oleh Profesor Suraj Srinivasan bersama Wilbur Xinyuan Chen dari Hong Kong University of Science and Technology dan Saleh Zakerinia dari Ohio State University.

Tim peneliti menganalisis data lowongan kerja di Amerika Serikat sejak 2019 hingga Maret 2025. Studi ini mencakup lebih dari 19.000 tugas pekerjaan dari sekitar 900 profesi yang berbeda.

Baca juga: Bukan Cuma Gelar, Ini Alasan Fresh Graduate Kalah Saing di Era AI

Lowongan Kerja Repetitif Mulai Menurun

Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan besar setelah peluncuran ChatGPT pada November 2022. Lowongan pekerjaan yang didominasi tugas terstruktur dan repetitif mengalami penurunan hingga 13 persen.

Jenis pekerjaan yang paling terdampak berasal dari sektor teknologi dan keuangan. Banyak tugas administratif, pengolahan data dasar, hingga pekerjaan analisis sederhana mulai dapat dikerjakan oleh sistem AI secara otomatis. Meski begitu, penelitian ini juga menemukan bahwa AI tidak hanya menghilangkan pekerjaan. Di sisi lain, muncul peningkatan permintaan terhadap profesi yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks.

Permintaan untuk pekerjaan yang mengandalkan kemampuan analitis, teknis, dan kreatif bahkan meningkat sekitar 20 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Kolaborasi Manusia dan AI Jadi Tren Baru

Penelitian tersebut menyoroti bahwa pekerjaan yang paling bertahan adalah profesi yang memadukan kemampuan manusia dengan bantuan AI. Dalam model ini, AI berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti penuh tenaga kerja manusia. Beberapa profesi yang dinilai paling potensial untuk diperkuat AI antara lain mikrobiolog, analis keuangan, hingga neuropsikolog klinis.

Di bidang keuangan misalnya, analis investasi kini memanfaatkan AI untuk membaca data pasar dan menyusun prediksi lebih cepat. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia, terutama untuk memahami konteks, risiko, dan strategi bisnis yang lebih kompleks.

Peneliti juga menemukan bahwa pekerjaan yang rentan digantikan AI justru mengalami penyusutan kebutuhan skill hingga 7 persen. Sebaliknya, profesi yang mampu berkolaborasi dengan AI mulai membutuhkan keterampilan baru yang sebelumnya belum terlalu diperhatikan perusahaan.

Skill Baru yang Kini Banyak Dicari Perusahaan

Seiring meningkatnya penggunaan AI generatif, perusahaan mulai mencari kandidat dengan kemampuan yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi. Studi dari Harvard Business School menunjukkan bahwa sejumlah keterampilan baru mulai menjadi semakin penting di dunia kerja.

Beberapa skill yang kini banyak dibutuhkan antara lain:

  • Prompt writing, kemampuan menyusun instruksi yang jelas dan tepat agar AI dapat menghasilkan jawaban atau output yang optimal.
  • Literasi AI, pemahaman dasar cara kerja alat-alat berbasis AI serta kemampuan memanfaatkannya secara efektif untuk meningkatkan produktivitas kerja.
  • Kolaborasi manusia dan teknologi, kemampuan bekerja berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusia dalam pengambilan keputusan.
  • Penguasaan aplikasi AI sesuai bidang industri, seperti analisis data keuangan, desain kreatif, pemasaran digital, hingga riset kesehatan.
  • Kemampuan analisis dan pemecahan masalah, terutama dengan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat proses riset dan pengolahan informasi.
  • Kemampuan pengambilan keputusan atau human judgment, menilai apakah hasil yang dihasilkan sistem sudah relevan dan dapat digunakan dalam konteks pekerjaan.
  • Keterampilan interpersonal, komunikasi dan kolaborasi yang baik dalam tim kerja.
  • Kemampuan membaca situasi kompleks, ketika keputusan melibatkan banyak pertimbangan manusia dan konteks pekerjaan.

Baca juga: Digantikan AI, Pekerja Terancam Turun Gaji Hingga 10 Tahun

Perusahaan Diminta Fokus pada Pelatihan Ulang

Profesor Suraj Srinivasan menyarankan perusahaan untuk mulai berinvestasi pada program pelatihan ulang atau reskilling bagi karyawan yang pekerjaannya berisiko tergantikan AI. Pelatihan tersebut sebaiknya difokuskan pada kemampuan yang sulit diotomatisasi, seperti komunikasi, kepemimpinan, dan penilaian situasional. Selain itu, perusahaan juga perlu mendorong peningkatan kemampuan AI secara berkelanjutan agar karyawan mampu mengikuti perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Menurut Srinivasan, AI generatif seharusnya dipandang sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan hanya sekadar cara memangkas biaya operasional perusahaan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penelitian ini masih berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Dampak jangka panjang serta pengaruhnya di negara lain masih perlu diteliti lebih lanjut.


Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(ir/sa)

Share :