Apakah Aplikasi Pengukur Saturasi Oksigen Dapat Diandalkan?

Deandra Salsabila . July 04, 2021


Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih terus berlanjut, bahkan meningkat. Bagi seseorang yang sedang terjangkit Covid-19, saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah menjadi salah satu hal yang penting untuk dipantau. Hal ini disebabkan kondisi pasien yang memburuk kerap kali terjadi bersamaan dengan menurunnya saturasi oksigen. 


Selain itu, dengan memantau saturasi oksigen dapat menunjukkan ketika pasien memiliki masalah pernapasan yang serius, bahkan ketika sang pasien tidak mengalami sesak napas. Saturasi oksigen ini dapat diukur menggunakan alat bernama oksimeter. Alat ini dapat mengukur kadar oksigen di dalam darah tubuh lewat ujung jari tangan. Cukup menempelkan ujung jari tangan, lalu sensor akan memindai saturasi oksigen dalam darah. Oksimeter pun dapat dibeli secara mandiri dan dijual di beberapa e-commerce dengan harga ratusan hingga jutaan rupiah.


Meskipun begitu, sejumlah orang kerap memilih cara yang lebih praktis untuk memantau kadar oksigen dalam darahnya, yaitu menggunakan aplikasi oksimeter yang marak tersedia di smartphone Android dan iOS. Namun, apakah hasil pengukuran saturasi oksigen menggunakan aplikasi oksimeter di ponsel dapat dijadikan patokan? 


Pengguna hanya perlu mengetik kata kunci "oksimeter" atau "oximeter fingerprint" untuk dapat menemukan berbagai macam aplikasi yang didesain untuk bisa mengukur kadar oksigen dalam darah. Misalnya, ada aplikasi O2 Meter, Pulse Oximeter, dan lainnya. Aplikasi ini sudah diunduh lebih dari 100.000 kali, dan mendapatkan rating 4.0. 


Meskipun menyediakan berbagai macam pengukuran yang berkaitan dengan kondisi kesehatan seseorang, pengembang aplikasi O2 Meter telah memberikan sebuah peringatan. Salah satunya adalah untuk tidak menjadikan hasil pengukuran dari aplikasi O2 Meter sebagai patokan utama. 


"Aplikasi kami tidak diuji atau diverifikasi, jadi akurasi mungkin berbeda pada beberapa perangkat," ungkap Animesh Jana selaku pengembang aplikasi O2 Meter di Google Play Store. 


Tak hanya itu, pengembang juga memperingatkan pengguna jika aplikasi O2 Meter ini tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam mendiagnosis kondisi apapun, atau juga tidak ditujukan untuk mencegah penyakit apapun.


Berkaitan dengan hadirnya aplikasi seluler yang dapat digunakan untuk mengukur saturasi oksigen ini, sejumlah dokter meragukan kemampuannya. Direktur kantor kedokteran Universitas Alabama di Sekolah Kesehatan Birmingham, Walter Schrading, bersama koleganya, pernah mengevaluasi kinerja tiga aplikasi oksimeter pada tahun 2019. Hasilnya adalah aplikasi-aplikasi tersebut tidak cukup meyakinkan untuk mengidentifikasi orang yang tidak memiliki cukup oksigen. 


Menurut Schrading, meskipun aplikasi tersebut bisa melakukan pemeriksaan oksimetri, tetapi hasilnya tidak akurat, terutama jika kadar oksigen dalam darah sudah sangat rendah. Orang yang sebenarnya memiliki kadar oksigen rendah, bisa saja disebut "normal" oleh aplikasi. Maka dari itu, aplikasi ini tidak dapat sepenuhnya kamu andalkan.

(DS)

Share :