Program Tes COVID-19 Bill Gates Dihentikan Pemerintah AS, Kenapa?

Sutrisno Zulikifli . May 17, 2020

Bill Gates (Foto: World Economic Forums)

Teknologi.id - Sebuah program pengetesan mandiri COVID-19 yang didukung oleh Yayasan Bill dan Melinda Gates Foundation dihentikan operasinya oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Program bernama Seattle Coronavirus Assessment Network (SCAN) yang berguna untuk memetakan penderita COVID-19 di masyarakat tersebut disetop oleh otoritas pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) terkait izin tambahan.

Terlepas dari alasan FDA, banyak spekulasi terkait penghentian program SCAN, diantaranya karena Bill Gates kerap mengkritik pemerintah AS dalam menangani kasus COVID-19. Belum lagi, pendiri Microsoft itu lebih mengapresiasi cara China dalam menghambat penularan virus COVID-19 ketimbang negaranya.

BACA JUGA: Perusahaan Farmasi China Siap Produksi 100 Juta Vaksin COVID-19 Per Tahun

Namun, pihak SCAN membantah bila ada isu lain dibalik itu. "Tidak ada isu ataupun kekhawatiran tentang keamanan atau akurasi tes yang dilakukan SCAN," ujar SCAN dalam keterangannya, Minggu (17/5/2020).

Program SCAN diluncurkan pada awal Maret lalu dengan pendanaan dari Gates Foundation. Program ini juga didukung beberapa lembaga lain termasuk Seattle and King County Public Health Department dan Fakultas Kedokteran University of Washington.

Dalam blognya, Gates membanggakan program SCAN dan mengatakan program tersebut akan berguna untuk memetakan penderita COVID-19 di masyarakat.

"Tidak hanya membantu meningkatkan pemahaman kita soal wabah Corona di Seattle, tapi juga menyediakan informasi berharga ke komunitas lain di dunia," tulis Gates.

BACA JUGA: Bill Gates dan Elon Musk Ramai-ramai Sindir Kebijakan Donald Trump

Program SCAN juga diklaim sebagai program pertama yang memungkinkan partisipan menggunakan tes swab sendiri dan mengirimkan sampel ke lab tanpa perlu meninggalkan rumah.

"SCAN adalah program pertama yang memungkinkan partisipan menggunakan tes swab sendiri untuk mengumpulkan sampel dan mengirimkannya ke lab tanpa perlu meninggalkan rumah," imbuhnya.

AS sendiri merupakan negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di dunia hingga saat ini. Berdasarkan data dari Worldometers, ada 1.507.773 kasus, dengan 90.113 kematian dan 339.232 orang sembuh.

(sz)

teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar

Berita Menarik Lainnya

Berita Terpopuler