Material Baru Ini Sekuat Baja Tapi Se-ringan Plastik!

Fikriah Nurjannah . February 08, 2022

foto : unsplash.com

Teknologi.id – Ilmuwan MIT telah mengembangkan bahan baru yang sekuat baja tapi se-ringan plastik.

Berdasarkan keterangan Michael Strano, Profesor Teknik Kimia Carbon P. Dubbs di MIT dan senior penulis studi baru, menyampaikan bahwa material baru Ini dapat dengan mudah diproduksi dalam jumlah besar, serta penggunaan yang berkisar mulai dari pelapis ringan untuk mobil dan telepon hingga blok bangunan untuk struktur besar seperti jembatan.

“Kami biasanya tidak menganggap plastik sebagai sesuatu yang dapat Anda gunakan untuk menopang sebuah bangunan, tetapi dengan bahan ini, Anda dapat memungkinkan (penggunaanya) (dalam) hal-hal yang baru,” katanya dalam sebuah pernyataan dari MIT. “(material) Ini memiliki sifat yang sangat tidak biasa dan kami sangat bersemangat tentang itu.”

MIT menjelaskan bahwa bahan material baru tersebut beberapa kali lebih kuat dari kaca anti peluru, dan jumlah gaya yang dibutuhkan untuk memecahkannya adalah dua kali lipat dari baja, meski pada faktanya bahan tersebut hanya memiliki sekitar seperenam kepadatan baja.

Para Ilmuwan dapat melakukan penelitian ini dengan mengembangkan proses baru untuk membentuk polimer. Plastik adalah contoh polimer, begitu pula dengan karet dan kaca.

Mereka juga ingin melihat apakah mereka dapat membuat versi dua dimensi dari polimer yang dapat tetap rata, sehingga membuatnya menjadi ringan. Para Ilmuwan MIT juga mencoba selama beberapa dekade untuk membuat bahan seperti itu, dan proses baru yang mereka kembangkan diterbitkan dalam jurnal "peer-review Nature" pada minggu lalu.


Baca Juga : Chrome Mengubah Logonya Setelah 8 Tahun

Polimer pada dasarnya adalah rantai molekul individu, yang disebut monomer, dihubungkan bersama oleh ikatan kimia. Biasanya, ketika polimer terbentuk, mereka mengembang menjadi objek tiga dimensi, seperti bagaimana kue mengembang naik saat dipanggang dalam oven. Hal yang menjadi tantangan adalah meskipun jika ada satu monomer yang mulai berotasi, maka polimer menjadi tiga dimensi.

Misalnya, bayangkan jika Anda ingin mengatur barisan untuk anak-anak dan mengumpulkan anak-anak di auditorium dengan meminta mereka bergandengan tangan. Namun, jika salah satu dari anak-anak mengabaikan perintah tersebut dan berpindah-pindah, maka tidak mungkin untuk menjaga ketertiban.

Kuncinya berasal dari membangun proses yang memungkinkan monomer untuk terhubung dan tumbuh menjadi rantai polimer tanpa menyebabkan salah satu monomer menyimpang.

Jika Anda dapat membuat beberapa polimer dua dimensi, Anda dapat melapisinya seperti cakram dan menumpuknya bersama-sama dalam ruang yang sempit, sama halnya seperti bagaimana Anda dapat mengumpulkan barisan anak-anak ke dalam auditorium, jika mereka berperilaku baik.

(fnj)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar