Kepolisian Beijing Memakai Kacamata Canggih Untuk Identifikasi Pengendara dan Nomer Plat Mobil

Video promosi menunjukkan aktor yang mengenakan kacamata cerdas face recognition LLVision selama demonstrasi di kantor perusahaan di Beijing, China 28 Februari 2018. (REUTERS / Thomas Peter)
  • Polisi Beijing mulai menguji kacamata pengenalan wajah dua bulan lalu.
  • Mereka tampak mirip dengan yang pertama kali digunakan oleh polisi di stasiun kereta api Henan tiga bulan yang lalu.
  • China secara drastis meningkatkan teknologi pengenalan wajahnya, dan berharap akhirnya dapat mengidentifikasi warga negara dalam waktu tiga detik.
  • Wilayah Xinjiang yang dikenal dengan pengawasan yang sangat ketat berfungsi sebagai peringatan bagi negara lain tentang kemungkinan langkah-langkah pengawasan yang akan datang.

Polisi di pinggiran Beijing menggunakan kacamata pengenalan wajah yang dapat mengidentifikasi penumpang dan pelat nomor mobil hanya dalam milidetik. Kacamata pintar itu pertama kali diuji di Beijing di pos pemeriksaan jalan tol pada minggu pertama bulan Maret lalu, menurut Reuters.

Didukung oleh kecerdasan buatan, kacamata ini membandingkan wajah dan mobil dengan “daftar hitam” secara real time dan menampilkan kotak merah dan tanda peringatan saat pencocokkan.

Seorang petugas polisi mengenakan sepasang kacamata pintar dengan sistem pengenalan wajah di Stasiun Kereta Api Timur Zhengzhou di provinsi Henan tengah Cina. (AFP/Getty Images)

Kacamata bertenaga AI ini dibuat oleh LLVision, sebuah perusahaan di balik pelucuran kacamata hitam polisi yang sama di stasiun kereta api Henan bulan Februari lalu. Teknologi ini dengan cepat dipuji oleh pihak berwenang untuk membantu mengidentifikasi beberapa individu yang sebelumnya telah melakukan kejahatan, dari perdagangan manusia hingga pelanggaran lalu lintas.

Pengawasan dan teknologi pengenalan wajah sedang meningkat di China. Saat ini ada 170 juta kamera pengintai, dan pemerintah berharap ada lebih dari tiga kali lipat dari jumlah itu pada tahun 2020. Itu akan menjadi hampir satu kamera untuk setiap dua warga negara, sehingga Kementerian Keamanan Publik berharap dapat menggunakannya untuk mengidentifikasi warga negara manapun dalam waktu tiga detik.

Sementara para ahli khawatir tentang pelanggaran privasi dan hak asasi manusia, CEO LLVision, Wu Fei, percaya bahwa kekhawatiran tersebut tidak beralasan.

“Kami mempercayai pemerintah,” Wu mengatakan kepada Reuters, menambahkan bahwa Beijing menggunakan peralatan bertenaga AI untuk “tujuan mulia.”

Tetapi ada satu wilayah yang pengawasannya sangat ketat di Cina, Xinjiang, dianggap sebagai tanda peringatan mengenai apa yang bisa direncanakan pemerintah untuk diterapkan di seluruh negeri.

Hampir 50% penduduk Xinjiang adalah Uyghurs, etnis minoritas Muslim, yang dipandang penuh kecurigaan oleh pemerintah Cina. Kamera pengenalan wajah sudah sangat umum di wilayah ini, nomor pelat dilacak dan kebebasan untuk bepergian sangat terbatas.

Pihak berwenang Xinjiang juga telah meminta warga memasang aplikasi pengawasan di ponsel mereka, ditambah DNA, pemindaian iris, sidik jari, dan golongan darah telah dikumpulkan dari warga, terkadang bahkan tanpa sepengetahuan mereka.

Pada 2016, biro polisi Xinjiang juga mulai mengumpulkan sampel suara warga. Ini mungkin merupakan langkah awal menuju basis data suara nasional yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suara apa pun dalam percakapan telepon yang direkam.

Populasi sampel China yang besar dan undang-undang privasi yang longgar telah memungkinkan polisi dan perusahaan swasta untuk merintis teknologi tersebut dengan sedikit keterbatasan – teknologi yang secara dramatis dapat mengubah cara masyarakat China beroperasi.

Sumber: Business Insider Singapore.

Berita ini merupakan kerja sama antara Teknologi.id dan Qlue.

Baca juga: Transportasi yang Saling Terhubung Menjadi Penunjang Pembangunan Smart City.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *