Lagi-lagi, Dokumen Rahasia Milik Kominfo Diduga Bocor

Aprilia Khairul Amalia . September 16, 2022

Foto: Tangkapan layar dokumen Kominfo yang diduga bocor (Twitter @b00km4rkz)

Teknologi.id - Data sebesar 66 GB dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) diduga telah bocor. Thread tersebut diposting di forum Breached dengan nama pengguna Toshikana pada Selasa (13/9). 

"Chill there is only data about the Department of Communication and Information Technology. This thread is based on the opinion of 2 people who were drunk and this is intended for all Departments in Indonesia. [Tenang saja yang ada hanya data tentang Departemen (Kementerian) Komunikasi dan Informatika. Thread ini berdasarkan opini dari 2 orang yang sedang mabuk dan ini ditujukan untuk semua Departemen (Kementerian) di Indonesia]," tulis Toshikana, seperti dikutip pada Jumat (16/9).

Ia mengklaim bahwa data tersebut diklasifikasikan sebagai Konfidensial, Rahasia dan Sangat Rahasia. Mereka akan menyimpan data tersebut di server, tidak dijual atau dibagikan sampai mereka melihat perubahan signifikan di instansi. 

"Saya yakin kita semua sepakat bahwa sesuatu yang dijanjikan aman, di masa depan harus tetap aman dan begitu juga Data Rahasia, harus tetap Rahasia meskipun itu data lama atau data milik orang miskin," kata Toshikana.

Data tersebut berisikan pembahasan Blockhain, Big Data, Metaverse, RUU PDP (Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi), PDN/PDNS, Anggaran Kementerian Kominfo Tahun 2020, 2021, 2022, 2023, Rekening Koran, Laporan Keuangan, Faktur Hotel, Catatan Rapat, Catatan Pelatihan, Surat Tugas, Rencana 2023-2024, dan lain sebagainya. 

Ia juga berjanji tidak akan membeberkan data terkait masyarakat sipil, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan, serta militer Indonesia. 

BACA JUGA : Tertarik Jadi Hacker? Inilah Tips dan Rekomendasi Belajar Jadi Hacker


Dalam postingan @b00km4rkz melalui jejaring sosial Twitter, terlihat sebuah dokumen yang dianggap rahasia. 


Toshikana mengklaim bahwa kelompoknya ditawari sejumlah besar uang untuk membobol sistem keamanan Departemen Luar Negeri dan Pertahanan pada 25 Agustus lalu. 


Pemimpin grup itu pun memberi peringatan kepada Menteri Pertahanan Prabowo tentang  potensi besar cyber spionage. 


Namun, menurut Toshikana, surat itu tampaknya tidak dibaca atau dibaca tetapi hanya dianggap sebagai lelucon. 


"Agar perubahan terjadi, Anda harus mengakui fakta, mendengar apa yang perlu didengar dan mengatakan apa yang perlu dikatakan, bukan hanya mengeluarkan kalimat atau pernyataan yang tidak perlu, hanya untuk menunjukkan bahwa Anda kuat," tutup Toshikana.

(aka)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar