Smartphone Android Pertama Bikinan Afrika Resmi Dirilis

Smartphone Android Pertama Bikinan Afrika
Foto: Reuters

Teknologi.id – Mara Group, perusahaan teknologi dari negara Rwanda resmi merilis dua smartphone yang menjadikannya model perangkat Android pertama yang sepenuhnya dibuat di Afrika.

Kedua smartphone itu bernama Mara X dan Mara Z. Ponsel tersebut masing-masing dibanderol seharga 190 dolar AS (Rp 2,6 juta) dan 130 dolar (Rp 1,8 juta).

Hasil gambar untuk africa's first smartphone
Foto: Fast Company

Perangkat tersebut akan bersaing dengan Samsung dan ponsel non merek lain yang tersedia di Afrika. CEO Mara Group, Arish Thakkar mengatakan harga tersebut disesuaikan dengan kualitas produk yang ditawarkannya.

Thakkar optimis produk buatannya akan laris terjual. Sebab menurut dia, target market dari smartphone ini adalah konsumen yang mau membayar lebih tinggi demi mendapatkan barang yang lebih berkualitas.

Baca juga: Resmi Meluncur, Ini Harga Oppo Reno 2 dan Reno 2F di Indonesia

“Ini adalah smartphone pertama yang dibuat di Afrika,” kata Thakkar, sambil menambahkan bahwa ponsel Mara juga dirakit di wilayah Mesir, Ethiopia, Aljazair dan Afrika Selatan. Namun, komponennya didapatkan melalui jalur impor.

“Kami sebenarnya adalah yang pertama melakukan perakitan. Kami membuat motherboard, kami juga membuat sub-board selama proses berlangsung. Ada lebih dari 1.000 buah per ponsel,” lanjutnya.

Dilansir dari Reuters, Jumat (11/10/2019), Thakkar mengungkapkan pembuatan pabrik ponsel tersebut menelan biaya sekitar 24 juta dollar AS. Kapasitas produksinya 1.200 unit ponsel per hari.

Baca juga: Ini Deretan Smartphone Xiaomi yang Mendapatkan MIUI 11

Presiden Rwanda, Paul Kagame mengatakan kehadiran vendor ponsel pertama dari negaranya diharapkan dapat meninggkatkan jumlah penggunaan ponsel pintar yang saat ini baru sekitar 15 persen.

“Rwanda sudah menggunakan ponsel pintar, tetapi kami ingin mengaktifkannya lebih banyak lagi. Pengenalan ponsel Mara akan menempatkan kepemilikan ponsel dalam jangakauan yang lebih banyak di Rwanda,” ungkapnya.

(dwk)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending