Selain Begal, Penjahat Siber Juga Menggila Sejak Pandemi COVID-19

Sutrisno Zulikifli . April 21, 2020

kriminal covid

Ilustrasi penjahat siber. Foto: Shutterstock

Teknologi.id - Semakin mewabahnya COVID-19, seakan seiring dengan meningkatnya tingkat kejahatan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Belakangan ini, viral beberapa video di media sosial mengenai polisi yang melakukan aksi kejar-kejaran dengan kawanan begal di daerah Jakarta.

Khusus kejahatan di dunia maya, penyusup juga sempat menghebohkan Indonesia, kala Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional melakukan talk show pekan lalu. Kegiatan Watiknas disusupi hacker dengan menampilkan video porno.

Dari data resmi yang dirilis Data Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional atau Pusopskamsinas BSNN mencatat, ada 88.414.296 serangan siber yang terjadi sejak 1 Januari 2020 hingga 12 April 2020 lalu. Puncak serangan siber terjadi pada tanggal 12 Maret 2020 yang menyentuh angka 3.344.470 serangan.

BACA JUGA: Lagi, 530 Ribu Data Pengguna Zoom Dijual Murah ke Dark Web

BSNN juga mengungkap terjadi penurunan angka serangan siber saat kebijakan work from home atau WFH diberlakukan. Walaupun menurun, tidak bisa dipungkiri bahwa serangan siber terus terjadi di masa WFH dengan membawa isu terkait wabah COVID-19 atau virus corona.

Jenis serangan siber yang paling banyak terjadi adalah trojan activity sebanyak 56 persen yang disusul dengan aktivitas information gathering sebanyak 43 persen dari total keseluruhan. 1 persen dari serangan siber ini merupakan web application attack.

Mengutip BSNN, data Pusopkamsinas BSNN hingga 12 April 2020 menemukan telah terjadi 25 serangan siber dengan 17 serangan global serta 8 serangan untuk satu negara. Bulan Januari 2020, serangan siber jenis Malicious Email Phising marak terjadi.

Menyusul Maret 2020, dengan isu virus corona, serangan siber jenis Trojan HawkEye Reborn, Blackwater malware, BlackNET RAT, DanaBot Banking Trojan, Spynote RAT, ransomware Netwalker, Cerberus Banking Trojan, malware Ursnif, Adobot Spyware, Trojan Downloader Metaploit, Projectspy Spyware, Anubis Banking Trojan, Adware, Hidden Ad, AhMyth Spyware, Metasploit, Xerxes Bot, dan Covid19 Tracker Apps.

BACA JUGA: 4 Tips Terhindar dari Hacker dan Hoax di Tengah Wabah COVID-19

Bulan April 2020, tercatat hanya satu serangan siber yaitu berjenis Malicious Zoom hal ini berkaitan dengan aplikasi Zoom yang telah disisipi Malicious Zoom dengan kode modul metasploit, adware, dan hiddenad/hiddad.

BSNN menjelaskan bahwa serangan siber ini dapat mempengaruhi berjalannya sistem elektronik dengan serangan virus, pencurian data, informasi pribadi, hak kekayaan intelektual perusahaan, hingga gangguan akses terhadap layanan elektronik.

Lebih lanjut, menangani serangan siber ini, BSNN menyarankan untuk segera melakukan pemulisan sistem dan data elektronik sesegera mungkin untuk menghindari dampak lebih parah dari ancaman ini.






View this post on Instagram









Malam #Siberman . Pusat Operasi keamanan Siber Nasional (Pusopskamsinas) Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 88.414.296 serangan siber telah terjadi sejak 1 Januari hingga 12 April 2020. . Puncak jumlah serangan terjadi pada tanggal 12 Maret 2020 yang mencapai 3.344.470 serangan dan setelah itu jumlah serangan mengalami penurunan yang cukup signifikan saat diberlakukannya kebijakan work from home (WFH) di berbagai tempat. Namun demikian selama WFH berlangsung telah terjadi serangan siber yang memanfaatkan isu terkait dengan Covid-19. . Jenis serangan yang paling banyak adalah trojan activity sebanyak 56% dan kemudian disusul dengan aktifitas information gathering (pengumpulan informasi) sebanyak 43% dari total keseluruhan serangan, sedangkan1% sisanya merupakan web application attack. . Tetap bijak mengakses #ruangsiber dan jaga selalu #keamanansiber ! . Info selengkapnya dapat dilihat pada tautan: . https://bssn.go.id/rekap-serangan-siber-januari-april-2020/ . . #BSSN #BadanSiberDanSandiNegara #BSSNuntukIndonesia #cyberattack #PUSOPKAMSINAS #SeranganSiber #securityadvisory #malware

A post shared by BADAN SIBER DAN SANDI NEGARA (@bssn_ri) on



Kejahatan-kejahatan seperti ini bukan cuma terjadi di Indonesia. Amerika Serikat malah mendapatkan laporan tentang kejahatan siber naik 300 persen sejak pandemi ini tak terbendung penyebarannya.

Dalam laporan Pusat Pengaduan Kejahatan Internet (IC3) FBI, ada sebanyak 3000 sampai 4000 pengaduan dari warganya tentang hal tersebut. Padahal, hari-hari biasanya cuma sekitar 1000-an, dilansir Engadget.

Selain itu, Wakil asisten direktur Divisi Siber FBI, Tonya Ugoretz mengatakan, banyak hacker yang cenderung mengintai lembaga-lembaga kesehatan dan negara-negara yang sedang mengembangkan vaksin virus ini.

BACA JUGA: Tips Terhindar dari Zoom Bombing

Organisasi Kesehatan Dunia dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan juga mengaku menjadi sasaran serangan peretasan utama.

Pemerintah Jerman juga tak luput dari kejahatan siber. Dilaporakan, Jerman berpotensi kehilangan jutaan euro yang dialokasikan untuk bantuan keuangan COVID-19.

Serupa dengan data dari perusahaan perangkat lunak dan keamanan VMware Carbon Black. Dikatakan, serangan ransomware yang dipantaunya melonjak 148 persen pada bulan Maret.

"Ada peristiwa bersejarah digital yang terjadi di latar belakang pandemi ini, dan ada pandemi cybercrime yang terjadi. Terus terang, lebih mudah untuk meretas pengguna jarak jauh daripada seseorang yang duduk di dalam lingkungan perusahaan mereka," kata ahli strategi Cybersecurity VMware Tom Kellermann.

BACA JUGA: Bahaya! Diskusi Wantiknas Diserang Zoom Bombing

Menggunakan data dari Tim Cymru yang berbasis di AS dan memiliki sensor dengan akses ke jutaan jaringan, para peneliti di Keamanan Arktik Finlandia menemukan bahwa jumlah jaringan yang mengalami aktivitas jahat lebih dari dua kali lipat pada bulan Maret di Amerika Serikat. dan banyak negara Eropa dibandingkan dengan Januari setelah virus pertama kali dilaporkan di China.

Lonjakan terbesar terjadi ketika komputer merespons pemindaian saat seharusnya tidak dilakukan. Pemindaian seperti itu sering menargetkan perangkat lunak yang rentan, sehingga memungkinkan serangan yang lebih dalam.

(sz)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar