Pelajar Indonesia Sabet Penghargaan Bergengsi di Google Science Fair 2019

pelajar indonesia
Foto: Google

Teknologi.id – Pemenang kompetisi Google Science Fair 2019 resmi diumumkan. Akun Twitter resmi Google Science Fair (@googlescifair) mengumumkan lima finalis yang berhasil meraih penghargaan di ajang khusus pelajar berusia 13-18 tahun di seluruh dunia tersebut.

Celestine Wenardy, pelajar berumur 16 tahun asal Indonesia, menjadi salah satu finalis yang meraih penghargaan bergengsi, yaitu Virgin Galactic Pioneer Award. Penghargaan itu diberikan kepada “siswa yang menggunakan pendekatan inovatif dan langsung untuk memecahkan sejumlah tantangan teknik terbesar.”

Ia berhak mendapatkan beasiswa pendidikan sebesar 15.000 USD, kunjungan kantor pusat Virgin Galactic, dan kesempatan untuk bertemu mentor teknik dari Virgin Galactic selama setahun.

Baca juga: Mulai Tahun 2020, Coding Jadi Pelajaran Wajib Siswa SD di Singapura

Celestine mengembangkan alat pengukur konsentrasi kadar gula dalam darah (glukometer) tanpa pengambilan sampel darah.  Alat yang dikembangkan Celestine ini diharapkan dapat menjawab beberapa kendala isu diabetes yang ada di Indonesia karena diklaim lebih murah dari harga glukometer yang ada di pasaran.

Dibandingkan glukometer di pasaran yang bersifat invasif seharga USD 1.000, glukometer gagasan Celestine dengan harga USD 63 tentu sangat murah. Mengenai cara kerjanya, Celestine mengatakan bahwa alat buatannya memakai dua sensor.

“Sensor pertama menggunakan interferometri, yang melibatkan hubungan antara indeks bias kulit dan konsentrasi glukosa. Sensor kedua menggunakan teknologi termal, yang memanfaatkan korelasi antara kapasitas panas kulit dan konsentrasi glukosa,” kata Celestine di halaman profilnya di situs web Google Science Fair.

Bersaing dengan 19 Finalis Lain dari Seluruh Dunia

Di Google Science Fair 2019, Celestine bersaing dengan 19 finalis lain dari seluruh dunia.

Selain Celestine, empat orang pemenang lainnya adalah Fionn Ferreira, pelajar dari West Cork, Irlandia, yang menyabet penghargaan utama Google Grand Prize. Fionn ingin membantu menyelamatkan laut dengan metode penyaringan pada satu waktu. Ia meneliti penanganan mikroplastik di perairan.

Pemenang lainnya adalah Daniel Kazantsev. Siswa asal Rusia itu menawarkan gagasan baru untuk membantu orang-orang yang memiliki gangguan pendengaran agar dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Ia meraih penghargaan Lego Education Award.

Baca juga: Level EX, Pelajari Prosedur Operasi Secara Virtual

Selanjutnya ada Tuan Dolmen, pelajar asal Turki. Dia mengembangkan desain modul pertanian digital yang dapat menangkap getaran pohon untuk energi. Gagasannya tersebut membuatnya meraih penghargaan Scientific American Innovator Award.

Terakhir, dua ilmuwan dari India, yakni AU Nachiketh Kumar dan Aman KA, menggondol penghargaan National Geographic Explorer Award. Mereka menemukan cara ramah lingkungan untuk menggumpalkan karet.

(dwk)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending