Catatan tentang Blockchain (Part 1) — Prolog

“We always overestimate the change that will occur in the next two years and underestimate the change that will occur in the next ten.” — Bill Gates

Crypto Investor Head Right Now.
Artikel ini merupakan repost dari artikel tulisan Andrew Ryan Sinaga. Baca artikel sumber.

Crypto Bubble has burst.

So I think this is the perfect time untuk membahas underlying technology nya yaitu Blockchain 🙂

Kenapa?

Karena saya percaya teknologi ini will bring us forward as a society.

Tapi memang tidak akan dalam waktu dekat.

Butuh proses yang cukup panjang, dan kita selalu berekspektasi terlalu jauh untuk proses jangka pendek, just like Mr. Gates say.

Ingat dot com bubble?

Saat harga saham perusahaan teknologi meroket gila-gilaan di periode 98–99 semua orang berbicara tentang bagaimana Internet akan merubah SEMUA sendi kehidupan kita.

Investor bereaksi berlebihan terhadap potensi startup yang beredar di pasaran.

Setiap ada company yang melakukan listing di bursa saham, maka Investor akan membeli nya dengan harapan harga akan melonjak naik.

Mereka melakukan ini umumnya tanpa mempelajari fundamental bisnis perusahaan yang mereka beli.

Pretty much seperti yang terjadi di Pasar Cryptocurrency.

Investor akan membeli ICO coin-coin baru tanpa mempelajari terlebih dahulu real-world function dari utility token yang mereka beli dan kapabilitas Founding Team untuk mengeksekusi whitepaper yang telah disusun.

Mereka berpartisipasi di ICO, murni karena FOMO (Fear of Missing Out) kesempatan untuk mendapat keuntungan berlipat ganda.

Token dibeli dengan harapan ada orang lain yang mau membeli dengan harga yang lebih mahal lagi di Exchange.

Dalam dunia bisnis dikenal dengan “Greater Fool Theory” dimana orang membeli sebuah aset yang tidak jelas intrinsic value nya dengan harapan ada orang yang lebih “bodoh” dari mereka mau membeli asset tersebut dengan harga yang lebih tinggi.

Tapi meskipun mengecewakan secara finansial untuk retail investor, kejadian DotCom Bubble menjadi positif dalam perspektif jangka panjang untuk perkembangan dunia teknologi karena momen ini menjadi seleksi alam untuk Tech Company yang fundamental nya tidak kuat seperti: pets.com, theglobe.com, govworks.com, dan banyak perusahaan dotcom konyol lainnya.

They’re got wiped out from the market.

Menyisakan Tech Company yang memiliki business plan jelas dan world class team to execute the plan.

Sebagai study case, kita akan melihat kondisi 3 Tech Company yang melakukan IPO berdekatan dengan Dotcom bubble dan able to survive the burst yaitu: Amazon, EBay, dan Priceline (Now Called Booking Holding).

Amazon melakukan IPO di tanggal 15 Mei 1997,

EBay di tanggal 24 September 1998,

dan Priceline di tanggal 30 Maret 1999

bubble burst in 2001.

Let’s see their stock price movement on the day of IPO, during Bubble (1997–2000), and when the Bubble burst (2001) :

Notes :

  1. Harga saham diambil dari harga tertinggi closing bursa di tahun itu.
  2. Dilakukan pembulatan ke atas tanpa desimal for simplicity purpose.
AMAZON.
EBAY.
PRICELINE.
Stock Price reflecting Market Confidence in the Company.
So from this chart we can learn much about how people feel about Tech Company within that period, especially when the bubble burst in 2001.

EBay kehilangan hampir 1/2 nilai perusahaan nya.

Amazon kehilangan 3/4 nya.

dan Priceline amazingly hanya menyisakan 1/10, yep you read it right, SEPERSEPULUH nilai perusahaannya.

So Tech Company is over right?

How can a Company ever recover from such a massive blow?

Tapi, seperti kata Mr. Gates, people always underestimate what technology, and in this context Technology Company can do within 10 years (and beyond).

And surely that is the case here, as reflected by their stock prices.

This is the price movement from 2001 (crash) — 2011 (10 years after) — 2018 (today).

Notes:

  1. Kita akan menggunakan Harga Saham Tertinggi saat Bubble (HSTB, in short) sebagai perbandingan, to get better picture, how the company able to survive, evolve, and achieving new heights after the bubble.
  2. EBay melakukan splitting saham dengan Paypal di akhir 2015, dan setiap pemegang saham EBay mendapatkan saham Paypal dengan ratio 1:1
    Sehingga dalam chart ini, harga saham EBay di tahun 2016–2018 merupakan penjumlahan harga saham EBay + Paypal.
AMAZON.
EBAY.
PRICELINE.
Dengan prinsip bahwa harga saham menggambarkan confidence pasar terhadap perusahaan, maka chart ini menunjukkan bahwa after the bubble confidence tersebut bukan hanya recover, tapi significantly improve ketika Tech Company mulai merealisasikan potensinya 10–18 tahun kemudian.

In my personal view, this is what will happen with the Blockchain Project.

But this one is on steroid mode.

Instead of taking 4 years for the bubble to happen, Crypto Assets only need 4 months (November — February).

Dan menurut saya kecepatan ini wajar, karena dalam dotcom bubble hanya American Accredited Investor and Investment Institution who have access to Nasdaq yang bisa bergabung dalam speculative bubble tersebut.

Berbeda dengan crypto assets yang dapat diakses oleh semua orang di seluruh dunia melalui Local Exchange seperti : Indodax (VIP) di Indonesia, Bithumb di Korea, Coinbase di US, etc.

I Believe this cryto bubble burst will wipe out scam blockchain project who doesn’t have any real value, capability, and business plan.

This in turns will reduce all the noise and buzz around the blockchain space, karena ICO tidak lagi menjadi sarana yang seksi untuk para scammers dan wishful thinker mendapatkan keuntungan berlipat dengan cepat.

Yang pada akhir nya akan menjadi kesempatan untuk Legit Blockchain Project, who able to survie the burst, seperti Bitcoin, Ethereum, Litecoin, Stellar, Ripple, etc. to realize their full potential.

Ini yang menjadi alasan saya untuk mulai menulis Blockchain Series.

Karena saya yakin orang yang masih mau membaca tulisan tentang blockchain setelah market crash, adalah orang yang memang memiliki ketertarikan kuat terhadap Blockchain itu sendiri.

Kalau saya melakukan nya sebulan lalu, orang yang membaca kemungkinan besar adalah normal people yang mengalami FOMO untuk berinvestasi di Crypto Asset.

That is exactly what happen when i publish my writing on Stellar.

Lots of my friend reach out to me for investment advice and to be honest i feel lil bit guilty that i have ignite the idea in their mind to invest in high risk asset class like Crypto Asset.

I always warn them that this is SUPER HIGH RISK investment, and you can lost all your money in matter of hours.

But most of the time, they do it anyway. I just hope all of them has withdraw from the market before the bubble burst 🙂

For me, the kind of persons who should invest in Blockchain Project this early is a person with big believe in Technology.

So you can withstand the pressure when the market burst, because you know it will rebound one way or another when the project realize their full potential.

Anyway, series ini saya coba susun dalam 5 bagian :

  1. Part 1 — Prolog (this one)
  2. Part 2 — Blockchain dalam bahasa manusia
  3. Part 3— Bitcoin dalam bahasa manusia
  4. Part 4— Smart Contracts dalam bahasa manusia
  5. Part 5 — Ethereum dalam bahasa manusia

Harapan saya setelah membaca series ini, semakin banyak Normal People turned Tech Believer, seperti saya, yang aware dan get excited dengan potensi yang dibawa oleh Blockchain, sebagai sebuah alternatif teknologi.

Terlebih untuk para developer dan calon startup founders, semoga semakin banyak yang tergerak untuk membangun aplikasi dan startup dengan utilizing teknologi ini.

Kondisinya menjadi Underdeveloped seperti sekarang, karena jauh lebih banyak orang yang berbicara dan berdiskusi tentang Blockchain dibanding orang yang memang membangun project or startup on top of a Blockchain 🙂

So we need more and more doers in this space.

See you guys next week!

Baca juga: Bitcoin, Cryptocurrency, dan Mata Unas Digital Lain di Masa Depan (Part-1).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *