Smart Girls: Geek Girls Indonesia di Gelanggang Teknologi Dunia 2018 – Part I

Crystal Widjaja, Business Intelligence and Growth GO-JEK

Teknologi.id – Geek berasal dari Bahasa inggris sebagai istilah gaul untuk orang aneh atau non-mainstream dengan kefanatikan tinggi terhadap dunia teknologi atau bidang tertentu seperti sains, matematika, dan lainnya.

Geek memang kebanyakan seorang laki-laki, namun banyak juga perempuan yang tergolong menjadi geek, walaupun jumlah mereka tak sebanyak laki-laki.

Perempuan geek di dunia teknologi bagaikan anak tiri. Seperti juga di negara lainnya, jumlah perempuan di dunia teknologi Indonesia sangatlah sedikit dibandingkan pria. 

Perempuan yang sudah sedikit di dunia teknologi ini pun harus terus tergerus keberadaannya. Harus menghabiskan puluhan jam setiap minggu hanya bersama para pria tentu lama-kelamaan akan terasa kesepian. Mungkin inilah alasannya kenapa beberapa perempuan  menyerah, lalu meninggalkan pekerjannya di bidang teknologi.

Tapi tidak untuk para perempuan di bawah ini, selain cantik dan menarik, mereka juga sangat cerdas dan pekerja keras. Hal inilah yang mendasari Teknologi.id untuk membuat artikel untuk para Smart Girls dibawah ini.

1. Crystal Widjaja – SVP, Business Intelligence and Growth GO-JEK, Idola Nomor Wahid Para Geek Indonesia

Crystal Widjaja, Business Intelligence and Growth GO-JEK

Namanya melejit setelah memberikan keynotenya di Tech in Asia 2017, “Wah cantik ya”, “Wah salah fokus”, “Crystal Widjaja idolaku”, “Udah pinter cantik lagi”, begitu komentar-komentar di channel YouTube milik wanita berumur 27 tahun ini.

Di GO-JEK, Crystal dan tim membangun fitur otomatisasi yang akan mengirim email analisis ad-hoc secara otomatis dalam frekuensi waktu tertentu. Email itu berisi model statistik, visualisasi data, laporan analitik, atau ringkasan data. Data-data tersebut dikirim untuk menjawab pertanyaan bisnis.

Mengolah data mentah bisa jadi sangat memusingkan. Tapi bagi Crystal dan timnya yang beranggotakan 45 orang, itu semua bisa jadi adalah suatu tantangan yang harus diselesaikan. Semua data diamati untuk memastikan tim lain mendapat pasokan data yang tepat guna memantapkan langkah strategis yang diprioritaskan. Mereka juga menganalisis bagaimana cara pengguna Go-Jek berinteraksi dengan aplikasinya.

 

Saya ingin membuat banyak dampak dan perubahan di dunia. Bukan hanya membuat aplikasi untuk generasi millenial, tapi juga membuat perubahan. – Crystal Widjaja

Apa yang telah dicapai Go-Jek saat ini pun tak hanya dilihat dalam lingkup nasional, tapi juga internasional. Majalah Fortune beberapa waktu lalu menempatkan Go-Jek di posisi ke-17 dalam daftar perusahaan yang mengubah dunia. Ia bersanding dengan perusahaan populer semacam Apple, Microsoft, dan Unilever.
Fortune mengatakan Go-Jek mampu melanjutkan perekonomian kota di mana bisnis-bisnis UMKM terbantu dengan pelonjakan pendapatan setelah menjadi mitra perusahaan. Mitra pengemudi juga sangat terbantu dari sebuah ekosistem yang dibangun oleh Go-Jek.
Pencapaian ini tak lepas dari peran Crystal dan tim business intelligence yang selama dua tahun terakhir mengawal infrastruktur data, mengalirkannya, dan menemukan wawasan yang berarti.

2. Kania Azrina – Software Engineer Twitter

Kania Azrina – Software Engineer, Twitter

Kania Azrina adalah alumni Informatika ITB tahun 2014, kemudian Ia melanjutkan studinya di New York University. Tahun 2015 ia berhasil menyelesaikan studinya dan berhak atas gelar Master of Science bidang Applied Urban Science and Informatics.

Pada tahun 2015, ia bekerja di UNICEF di bagian Data, Research, and Policy Intern. Ia mengembangkan alat visualisasi berita harian dan prototipe alat penambangan teks untuk mengeksplorasi dokumen resmi pemerintah Indonesia.

Pada tahun yang sama hingga 2017 Kania bekerja di PBB sebagai Software Engineer. Ia mengembangkan berbagai aplikasi yang memanfaatkan teknologi baru, termasuk: mesin pencari untuk dokumen resmi PBB dan media sosial, agen percakapan (bot), pipa data real-time, dan visualisasi.

Setelah itu dari 2017 hingga saat ini ia mengabdi sebagai Software Engineer di Twiiter. Ia mengembangkan saluran data skalabel untuk menyampaikan konten pemasaran ke pengiklan swalayan Twitter.

My technical skills and my passion for community development. – Kania Azrina

3. Farrah Nurul Fatimah – Product Design Lead Tokopedia

Farrah Nurul Fatimah, Product Design Lead di Tokopedia

Geek Girls selanjutnya adalah Farrah Nurrul Fatimah, alumnus Universitas Bina Nusantara (Binus) jurusan Ilmu Komputer.

Setelah lulus dari Binus tahun 2013, ia merintis karir di Tokopedia mulai April tahun itu hingga saat ini, yang berarti sudah 5 tahun 8 bulan berkecimpung.

Memulai karirnya di Tokopedia sebagai Web Designer, ia berfokus pada penelitian dalam pengujian kegunaan, pengujian A / B, desain UI / UX dalam wireframe dan mockup menggunakan Photoshop / Illustrator, mengembangkan aplikasi front-end dalam HTML, CSS & JS , serta meningkatkan dan membangun produk / fitur untuk Tokopedia.

Pada media 2015 hingga 2016 Farrah menjabat sebagai Frontend Designer, dan mulai awal 2017 ia mendapat amanat sebagai UX Designer hingga sekarang.

Terlepas dari UX Designer ternyata Farrah juga menjabat sebagai pemimpin Product Designer mulai awal 2018 hingga sekarang.

Hampir enam tahun berkecimpung membesarkan Tokopedia mengartikan Farrah sebagai perempuan yang setia. Wah, sudah pintar, pekerja keras, setia pula, bisa dibilang Farrah adalah Geek Girls yang paling komplit.

4. Sabrina Anggraini, Interaction/UX Designer Traveloka

Bercita-cita untuk menciptakan pengalaman hidup yang lebih baik melalui Desain Produk, Sabrina sekarang bekerja sebagai Desainer Interaksi di salah satu agen perjalanan online terbesar di Asia Tenggara, Traveloka.

Selain itu, Sabrina memiliki minat yang kuat dalam Travel, Industri Kreatif dan Kewirausahaan Kreatif yang berkesinambungan.

Alumnus Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pun aktif membuat konten di website The Classic Wanderer (theclassicwanderer.com), sebuah blog inspirasi wisata lokal maupun internasional. 

Jiwa travellernya pun tercermin ketika mendirikan Kultara (@kultara_) atau Kultur Nusantara, sebuah perusahaan sosial yang memungkinkan wisatawan untuk melakukan perjalanan sekaligus berkontribusi dalam kesenian lokal, lingkungan, pendidikan, dan lainnya.

Sedangkan di Traveloka, Sabrina telah mengabdi selama kurang lebih 2 tahun, sebelum di posisinya saat ini ia menjabat sebagai UI Designer.

Sebagai Interaction/UX Designer, Sabrina bertugas memvalidasi masalah pengguna melalui berbagai metode penelitian, dan menerjemahkannya ke dalam desain dan konsep manajemen gangguan perjalanan (seperti pengembalian uang, penjadwalan ulang, dan preflight).

Ia berkolaborasi dengan tim produk, desain, dan data dalam menyesuaikan konsep produk sesuai bisnis dan kebutuhan pengguna.

5. Mesty Ariotedjo – Co-Founder Wecare.id, Peduli Layanan Kesehatan Indonesia

Lewat situs WeCare.id, Mesty Ariotedjo membantu ratusan pasien dari Sumatera hingga Papua. Lewat situs WeCare.id, Mesty Ariotedjo membantu ratusan pasien dari Sumatera hingga Papua.

Di awal terbentuk,WeCare.id menangani enam pasien tidak mampu. Kasusnya kecelakaan lalu lintas, bayi Caesar yang lahir prematur, diabetes melitus, tumor leher, dan lainnya. Setiap hari satu pasien tertangani. Jadi, tidak sampai enam hari seluruh pasien bisa tertangani dan terdanai. Dari situlah masyarakat mulai percaya kepada WeCare.id – Mesty Ariotedjo

Berkat ide dan gerakannya ini, Mesty menuai banyak apresiasi. Di antaranya menerima penghargaan Ide Sosial Startup Terbaik dari Asia Social Innovation Award 2015, serta Inspiring Young Leaders 2014. Mesty juga mendapatkan penghargaan Forbes 30 Under 30 Asia untuk kategori healthcare and science. 

6. Anbita Nadine, The First Women Engineer in Go-Jek

Anbita Nadine Siregar berusaha mendobrak bahwa perempuan juga bisa bekerja di sektor teknologi. Nadine merupakan salah satu engineer wanita pertama yang dipekerjakan oleh Go-Jek. Saat ini, perempuan kelahiran Jakarta, yang ‘manis’ dan cerdas ini memegang posisi sebagai Product Engineer Go-Jek.

Setelah mendapat tawaran dari beberapa perusahaan teknologi, Nadine memilih untuk menerima pinangan dari Go-Jek. Sebagai iOS developer, wajib baginya untuk menguasai bahasa pemrograman Swift. Bahasa pemrograman swift adalah bahasa pemrograman untuk develop aplikasi mobile native iPhone besutan Apple. Tiga bulan pertama ia mempelajari Swift dengan penuh dukungan dari para senior dan mentornya.

Anbita Nadine – Product Engineer Gojek

Ketika ditugaskan, saya merupakan salah satu product engineer pertama yang dikirim Go-Jek dari Indonesia ke Singapura. Saya berpikir bahwa perusahaan memiliki rasa percaya yang tinggi kepada saya, ada tanggung jawab besar yang harus saya kerjakan, dan saya buktikan. Saya merasa apa yang saya dapatkan itu keren. – Anbita Nadine

Nah itulah Geek Girls Indonesia yang tak hanya cantik, tetapi juga pintar, cerdas, pekerja keras, dan setia. Nantikan para Geek Girls Indonesia yang lain di artikel selanjutnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *