Pratisara Satwika Anindita, CEO & Founder Marié: Nikmati Proses Menggapai Mimpimu

Halo Tech Expert!

Pada segment #SosokTeknologi di #SelasaMoodbooster kali ini, Teknologi.id mewawancarai  Pratisara Satwika Anindita atau biasa disapa Dita selaku CEO & Founder dari Marié. Marié adalah startup yang didirikan untuk memecahkan masalah terkait layanan pernikahan.

Marié merancang sistem buku tamu digital secara real time untuk mengetahui banyaknya tamu yang mendatangi acara pernikahan seseorang dengan tepat dan tidak lagi menggunakan sistem clocking yang biasa dilakukan oleh pihak Wedding Organizer (WO).

Yuk! Langsung saja kita simak isi dari wawancara Teknologi.id dengan Pratisara Satwika Anindita, mengenai bagaimana proses dalam mendirikan Marié, ide serta motivasi pendirian bisnis, halangan dan rintangan, serta lain sebagainya khususnya bagi kamu para calon entrepreneur atau first time entrepreneur!

Halo, Bu Dita! Bisa ceritakan bagaimana awal mula ide mendirikan Mariè?

Ide Marié bermula dari kebutuhan pribadi. Ketika persiapan menikah di akhir tahun 2016, saya merasa penggunaan buku tamu manual yang ada saat ini kurang efektif. Berapa banyak sih pengantin yang akan baca buku tamunya? atau, berapa kali sih buku tamunya akan dibaca se-umur hidupnya? Dari buku tamu manual, apa aja sih yang bisa didapat? dari problem itu, saya merasa buku tamu itu sangat bisa sekali untuk di-upgrade.

Saya mau buku tamu saya tidak menyia-nyiakan kertas dan lebih dari sekedar mengetahui nama tamu-tamu yang hadir. Saya mau punya kenangan berupa foto tamu yang hadir di nikahan. Dari foto tamu yang hadir, saya tidak hanya mengetahui nama berikut dengan “penampakan”-nya, tetapi juga bisa mengetahui dari instansi mana atau apa hubungannya tamu tersebut dengan pihak saya maupun suami saya.

Siapa saja foundernya? dan bagaimana proses para founder memvalidasi ide ke dalam kondisi real di pasar/industri Indonesia?

Founder Marié yaitu saya sebagai CEO, bersama dengan mas Mala sebagai CTO & mas Dadi sebagai CIO. Proses awal memvalidasi ide marié adalah dengan melakukan survey kecil-kecilan ke kerabat kami bertiga. Lebih lanjut, kami juga mencoba menanyakan “pain” yang dialami oleh rekan-rekan di industri pernikahan seperti WO dan catering untuk dapat dicarikan solusinya bersama dan dikolaborasikan dengan aplikasi kami.

Kami melakukan riset mulai dari kebiasaan pengguna, desain layout, hingga device yang tepat untuk aplikasi kami. Hingga saat ini, kami masih terus mengembangkan dan memvalidasi ide kami dimana aplikasi Marié tidak hanya dapat bermanfaat sebagai buku tamu di acara pernikahan, tetapi juga untuk berbagai macam event seperti seminar, conference, serta untuk dapat digunakan sebagai buku tamu di kantor maupun co-working space.

Apakah tujuan, visi dan misi dari di bangunnya Mariè?

Tujuan awal dibangunnya Marié adalah untuk turut serta mengembangkan teknologi di Indonesia terutama di industri pernikahan. Selain itu, kami juga memiliki misi untuk dapat turut serta membantu melestarikan lingkungan dengan mengurangi limbah kertas yang biasa digunakan sebagai buku tamu.

Bisa ceritakan rintangan dan tantangan yang paling berkesan dalam menjalankan Mariè?

Tantangan hingga saat ini yaitu bagaimana untuk terus dapat berkembang, men-scale up dan terus memberikan lebih banyak manfaat. Namun, jika ditanyakan tantangan paling berkesan selama menjalani Marié adalah ketika pelucuran Marié versi alfa.

Ketika itu buku tamu digital yang kami tawarkan belum menggunakan QRcode. Jadi ketika tamu datang hanya dibantu untuk menyebutkan namanya untuk didaftarkan. Keluhan yang ada ketika itu, yaitu sistem check in lebih lama karena terkadang nama yang disampaikan berbeda antara ejaan dengan pelafalannya. Namun setelah menggunakan QRcode, alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar dan belum ada keluhan yang berarti.

Bagaimana cara Mbak Dita melewati tantangan tersebut dan terus jalan membangun startup?

Cara untuk melewati setiap tantangan adalah dengan terus mengingat senyum kepuasan klien kami. Senyum setiap klien kami merupakan dorongan semangat untuk terus dapat memperbaiki dan mengembangkan aplikasi dan layanan kami.

Kami percaya bahwa cerita dan pengalaman dari setiap individu adalah inspirasi, maka bisakah bagikan quote atau prinsip yang di pegang oleh Mbak Dita untuk dapat terus fokus menggapai mimpi atau tujuannya?

Selalu ingat mimpi yang ingin digapai dan nikmati semua prosesnya. Karena semua penerimaan/penolakan, perasaan senang/sedih dan jatuh/bangun selama proses, akan jadi cerita yang sangat menarik untuk dikenang dan dibagikan ketika mimpi itu sudah menjadi kenyataan.

Sekian sekilas wawancara Teknologi.id dengan ratisara Satwika Anindita, CEO & Founder dari Marié. Dari wawancara ini kita bisa dapatkan pelajaran bahwa ide bisnis dan berinovasi bisa datang dari mana saja termasuk dari pengalaman diri kita sendiri. Seperti Dita, ketika persiapan menikah di akhir tahun 2016, Dita merasa penggunaan buku tamu manual yang ada saat ini kurang efektif, akhirnya Dita memutuskan untuk membangun Marié sebagai solusinya. nst

Baca juga: Dennish Tjandra, CEO & Founder HelloBeauty: Where There’s a Will, There’s a Way

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *