Perjalanan Toto Sugiri, Sang IT Legend Indonesia

Mungkin banyak orang sudah sering mendengar mengenai sosok yang satu ini, tapi tak sedikit pula yang belum tahu. Sosok ini adalah Toto Sugiri, seorang veteran di dunia teknologi Indonesia. Kisahnya memang tidak banyak diketahui orang dikarenakan beliau cenderung menghidari perhatian media. Beberapa diantara kalian mungkin sudah mengenalnya sebagai pendiri dan CEO dari data center empat tier pertama di Indonesia yakni DCI, namun apakah kalian tahu bahwa beliau adalah pendiri Sigma Group yang telah diakuisisi Telkom Indonesia pada 2007 ataupun sepak terjang perjalanan kewirausahaannya? Berikut kisahnya.

Seorang Pegawai

Toto kembali ke Indonesia pada tahun 1980 setelah menyelesaikan pendidikan master teknik komputer di Jerman dan memulai karir sebagai insinyur perangkat lunak di perusahaan minyak serta menjalankan startup pengembangan perangkat lunaknya sendiri sebelum berbagung dengan bank milik keluarganya. Saat bergabung dengan bank, Toto bersama tim yang dia kumpulkan, membuat perangkat lunak untuk memudahkan bank mengkomputerisasi. Hal itu membuat bank tersebut menjadi bak pertama di negara ini yang melakukan transaksi dengan komputer dan dia pun dipromosikan dengan cepat. Namun, ia membenci pekerjaan itu karena ada banyak politik yang tidak sehat dalam hierarki.

Selain merasa tidak cocok, Toto memiliki keinginan kuat untuk menjadi penyedia perangkat lunak yang produknya dapat membantu perusahaan. Dengan berani ia mengambil resiko, Toto pun berhenti dan keluar dari pekerjaannya di bank pada tahun 1989 dan memutuskan memulai perusahaannya sendiri. Sebenarnya itu bukan keputusan yang sulit baginya karena bawahannya dan istrinya sangat mendukung.

Kehidupan Startup

Ketika saya berhenti dari pekerjaan saya, lima rekan saya ikut dengan saya untuk membangun perusahaan kecil ini. Awalnya, kami hanya punya uang untuk bergerak selama 10 bulan. Jika kami tidak mendapatkan uang dalam waktu 10 bulan, kami akan kehabisan uang dan harus mencari pekerjaan lagi. Meskipun berisiko, semuanya mau mencoba. Kami membuka perusahaan kami, Sigma. Dalam dunia teknik, Sigma berarti hasil jumlah dari semuanya. Kami mulai dengan tujuan yang sederhana, yaitu menjadi perusahaan software yang memiliki produk yang digunakan lebih dari 10 perusahaan. Sangat sederhana.

Klien pertama Toto adalah sebuah bank, yang akhirnya ia dapatkan hanya dalam waktu dua bulan. Mendapatkan klien pertama adalah hal yang sulit, oleh karena itu Toto sangat bersyukur. Ia juga menceritakan bahwa bekerja di industri perbankan selama enam tahun membuatnya memiliki reputasi yang baik di industri perbankan dan dikenal oleh orang-orang, sekaligus membantunya mendapatkan klien.

Sebagai perusahaan baru, banyak yang tidak percaya pada kami. Tapi, satu bank memberikan kami kesempatan untuk mengerjakan proyeknya. Kami berdiskusi dengan bank tersebut mengenai bagaimana kami bisa membantu mengintegrasikan software kami dengan sistem mereka dan kemudian melatih pegawai mereka untuk menggunakannya. Kami juga mengatakan bahwa karena masih sebagai startup, kami tidak mampu membeli server yang dibutuhkan dan meminta pihak bank untuk membelinya. Kami juga berunding agar kami dapat memiliki hak cipta software yang kami buat sehingga kami bisa menjualnya ke bank lain. Dengan jujur dan terus terang seperti itu, pihak bank tersebut mempercayai kami dan memberikan proyek mereka kepada kami. Dengan ini, Sigma sudah memperoleh keuntungan di tahun pertamanya berjalan.

Pertumbuhan

Di akhir tahun pertamanya, Toto mengumpulkan semua rekannya:

Kami berkumpul dan berdiskusi mengenai apa yang setiap orang ingin capai dengan Sigma dalam waktu tiga tahun. Kami membuat peraturan bahwa semua orang harus menghargai tujuan satu sama lain dan tidak boleh ada yang mempertanyakan orang lain. Seorang rekan saya mengatakan: Saya ingin perusahaan ini punya 300 orang dalam timnya. Rekan yang lainnya melanjutkan: Saya ingin sebuah kantor dengan desain yang modern sehingga semua orang senang ketika bekerja. Toto kemudian menceritakan ini: Saya ingin paling tidak ada satu bank luar negeri yang menggunakan software kita.

Dengan tujuan itu, Toto membingkai sebuah kertas di depan mejanya dan menganggap semua target itu sebagai arah dari semua keputusan yang ia buat. Toto dan rekan-rekannya mencapai semua tujuan itu dalam waktu tiga tahun kemudian. Sigma sendiri berkembang sangat pesat, bahkan pernah ada lebih dari 50 bank di Indonesia menggunakan software Sigma sehingga memberikan Sigma keuntungan yang sangat besar.

Selain terus mengembangkan Sigma, Toto juga mempertimbangkan kesejahteraan anggota timnya. Ia mendukung dan mendorong timnya untuk menjadi entrepreneur dan Sigma akan memberikan dana pinjaman awal. Sigma pada akhirnya mendanai 15 anak perusahaan yang didirikan oleh anggota timnya sendiri.

Masa-masa Sulit

Pertumbuhan perusahaan dari tahun 1989 sampai sepuluh tahun kemudian sangatlah pesat dan bagus, namun semuanya terhenti saat tahun 1998 tepatnya saat krisis moneter dan kisruh politik melanda Indonesia. Saat itu Indonesia sangat kacau dimana banyak terjadi kerusuhan dan demonstrasi, kerusuhan terkait ras yang membunuh ribuan orang, nilai rupiah anjlok sehingga tabungan banyak orang tidak lagi berharga, harga kebutuhan pokok naik, dan banyak bank yang tutup atau bangkrut. Kebanyakan bisnis dan usaha memilih untuk tutup buku dan pemiliknya pergi sejauh mungkin dari Indonesia. Tapi, tidak bagi Toto. Beliau memindahkan istri dan putrinya ke Amerika dan kembali ke Indonesia untuk terus menjalankan Sigma di Indonesia.

Berikut pendapat Toto Sugiri ketika itu:

Bagi kami, entrepreneur sejati, kami tidak mencari pinjaman dari bank; kami menggunakan inovasi untuk mencari dana. Karena itu, secara finansial kami tetap aman dan kami juga punya tabungan dalam USD sebagai cadangan. Kami tahu bahwa selama masa krisis ini, kami tidak bisa menjalankan bisnis dari perusahaan Indonesia dalam waktu dua tahun. Berhentilah menangis – negara ini sudah menangis dan berkabung – dan pikirkan apa yang bisa kita lakukan berikutnya. Saya terpikir mengenai layanan software development. Ayo coba mengembangkan pasar kita di Amerika atau di manapun.

Bali dipilih Toto kala itu. Ia membeli rumah dan membangun kantor disana karena Bali lah tempat teraman kala itu. Toto memboyong semua timnya beserta keluarga mereka untuk pindah demi menjamin keselamatan mereka. Kemudian ia memulai Balicamp – perusahaan yang didanai Sigma yang berfokus pada software development untuk perusahaan asing atau internasional. Dari Balicamp inilah Sigma mendapatkan buah kesuksesan yang mana banyak klien dari Amerika dan negara lainnya yang mereka dapatkan.

Meskipun ada beberapa kejadian seperti dotcom crisis di awal tahun 2000 dan bom Bali pertama di tahun 2002, Sigma Group terus bertumbuh dan menjadi perusahaan yang terdiri dari 900 orang. Di tahun 2007, Sigma Group terlibat pengambil-alihan oleh Telkom Indonesia yang merupakan perusahaan negara karena pemerintah ingin perusahaan teknologi tersebut mengembangkan infrastruktur teknologi dalam negeri. Melihat ini sebagai tujuan yang lebih mulia bagi perusahaannya yang sudah berusia 20 tahun, Toto berpisah dengan Sigma Group.

Ada hal mulia yang bisa kita perhatikan sejak masa-masa awal Sigma, yakni fokus Toto sebenarnya bukanlah uang melainkan bagaimana tiap anggota timnya bisa meraih kesuksesan dan kenyamanan. Sekarang, Toto membuka dan mendanai sendiri pusat data senilai USD 200 juta, DCI. Ia memberikan tugas menata dan mengatur proyek baru ini kepada mereka yang lebih muda dan lebih memilih berperan sebagai penasihat. 

Sumber: Yahoo! Finance, Techinasia.

Baca juga: Muhammad Shiddiq Azis, Founder dan CEO Inagri: Bangun Bisnis Itu Harus Fokus!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *