BRIN Kembangkan Virus-Like Particle untuk Vaksin Model Baru

Muhammad Akhtar Jabbaran . December 08, 2022

Sumber Foto: BRIN

Teknologi.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan virus-like particle (VLP) menggunakan sistem ekspresi genetik ulat sutera sebagai salah satu platform untuk memproduksi vaksin.


“VLP berbeda dengan virus sebenarnya karena tidak memiliki materi genetik sehingga tidak dapat ditularkan dan direplikasi. Hal inilah yang membuat VLP lebih aman dibandingkan menggunakan virus hidup dalam pengembangan produksi vaksin,” peneliti di BRIN Research Center for Vaksin dan Obat Doddy Irawan Setyo Utomo diinformasikan dalam keterangan yang dirilis, Rabu.


Selama penelitian, timnya menggunakan ulat sutera sebagai sistem ekspresi protein untuk pengembangan VLP karena dapat meningkatkan stabilitas protein, memfasilitasi modifikasi pasca-translasi, dan menghasilkan protein sekresi yang lebih tinggi.


Ini juga merupakan sistem ekspresi protein yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, yang tidak memerlukan kondisi aseptik.


Para peneliti mencatat bahwa dibandingkan dengan platform pengembangan vaksin lainnya, VLP memiliki imunogenisitas dan keamanan yang tinggi, sehingga merupakan platform yang ideal untuk pengembangan vaksin.


Lebih lanjut, VLP adalah bentuk protein struktural virus, sehingga memiliki sifat yang melekat dan kemampuan untuk merakit sendiri dan meniru morfologi patogen.


Oleh karena itu, VLP dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme infeksi virus dan memicu respon imun.


Utomo mengatakan alasan timnya menggunakan teknologi VLP karena struktur geometrisnya yang mirip dan keseragaman yang luar biasa, memiliki sifat partikulat, kemampuan menjadi multivalen, serta memiliki sifat antigenik yang sama dengan virus aslinya.


VLP juga dapat digunakan sebagai vektor untuk menampilkan antigen asing pada permukaannya. Bagian dalam VLP yang berongga dapat diisi dengan bahan untuk berbagai terapi virus.


Selain itu, VLP juga memiliki kestabilan yang tinggi pada kondisi lingkungan yang ekstrim, dibandingkan dengan antigen terlarut.


Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia masih mengimpor tujuh antigen vaksin, antara lain Campak, Rubella, Injectable Polio (IPV), Japanese Encephalitis, Human Papilloma Virus (HPV), Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), dan Rotavirus.


Penyediaan vaksin impor merupakan bagian terbesar dari pengeluaran Kementerian Kesehatan, katanya. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia berupaya untuk meningkatkan teknologi pengembangan vaksin di dalam negeri.



Baca juga: Catat! 3 Cara Amankan WhatsApp Kamu Ketika Kemalingan


(MAJ)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar