Peneliti Kembangkan Vaksin untuk Perangi Malaria

Teknologi.id – Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah berusaha mengembangkan vaksin yang mencegah nyamuk menyebarkan malaria di antara manusia.

Pendekatan unik ini, di mana manusia yang diimunisasi mentransfer protein anti-malaria ke nyamuk ketika digigit, disebut vaksin pencegah transmisi (TBV). Beberapa TBV malaria telah menjanjikan, tetapi para peneliti belum secara luas menguji mereka karena efek samping yang tidak diinginkan atau efektivitas yang terbatas. Penelitian terbaru bisa mengubah itu.

Jika metode baru berhasil, akan membantu mengurangi penyebaran penyakit, yang membunuh lebih dari 400.000 orang setiap tahun, sebagian besar anak-anak kecil di Afrika.

“Malaria adalah masalah global yang sangat besar. Pendekatan ini dapat menjadi alat yang kami gunakan untuk mengatasi penyakit ini, ”kata Jonathan Lovell, profesor teknik biomedis di Universitas Buffalo dan penulis utama makalah ini.

Melawan akar malaria

Peneliti memanfaatkan TBV untuk melawan akar malaria sebagai salah satu sumber penyebaran. Cara kerjanya, seekor nyamuk yang membawa penyakit ini menggigit seorang anak dan mengirimkan parasit malaria. Kemudian, nyamuk yang tidak terinfeksi menggigit anak itu, dan kali ini anak itu yang membawa parasit ke nyamuk. Nyamuk itu kemudian menggigit korban baru dan menginfeksi mereka dengan parasit.

Pengembangan TBV yang efektif, dikombinasikan dengan jaring serangga, insektisida, obat antiparasit, dan jenis vaksin lainnya, dapat membantu memutus siklus ini. Sementara TBV tidak akan secara langsung mencegah orang yang diimunisasi terinfeksi, vaksin akan mengurangi kemungkinan orang terkena malaria.

Penelitian sebelumnya berfokus pada teknik seperti rekayasa genetika dan pengikatan kimiawi protein toksin untuk meningkatkan tanggapan TBV. Setiap strategi memiliki potensi, tetapi mereka juga memakan waktu dan sumber daya. Bioteknologi baru itu berbeda dalam kemudahan perakitan dan keefektifannya, kata Lovell.

Malaria menyerang antibodi

Para peneliti menemukan bahwa mereka dapat mencampur antigen dengan nanopartikel. Struktur yang dihasilkan adalah adjuvan generasi berikutnya, yang merupakan agen imunologi yang meningkatkan efektivitas vaksin.

Vaksin ini bekerja dengan mendorong manusia untuk membuat antibodi yang menyerang malaria, yang kemudian berpindah ke nyamuk karena menggigit manusia yang diimunisasi.

Tes menunjukkan bahwa antibodi dari protein yang disebut Pfs25 secara efektif menghalangi perkembangan parasit penyebab malaria di dalam usus nyamuk. Tes tambahan memasangkan adjuvant dengan beberapa antigen malaria, menghalangi penyebaran malaria pada berbagai tahap penyakit.

(DWK)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *