JPMorgan Luncurkan "Onyx Lounge" & Ambisi Bank Pertama Metaverse

Fikriah Nurjannah . February 17, 2022

foto : cointelegraph.com

Teknologi.id - Bank terbesar di Amerika Serikat, JPMorgan, telah mengambil langkah besar ke metaverse, dengan membuka ruang virtual di dunia populer berbasis blockchain Decentraland setelah menyebut sektor ini sebagai peluang $1 triliun.

JP Morgan membuka "Onyx lounge" di metaverse pada hari Selasa (15/02), yang didalamnya pengguna dapat membeli sebidang tanah virtual dalam bentuk NFT dan melakukan pembelian menggunakan cryptocurrency yang didukung oleh blockchain Ethereum.

Onyx Lounge JP Morgan ini berada di Metajuku, yakni versi virtual dari distrik perbelanjaan Harajuku di ibu kota Jepang, Tokyo. Pengunjung yang datang ke ruang tunggu JPMorgan akan disambut oleh avatar harimau dan potret digital dari CEO bank, Jamie Dimon.

Pengguna telah menggambarkan pengalaman mereka di lounge Onyx di Twitter. Selain itu, jika pemain berjalan ke atas, mereka dapat menonton presentasi eksekutif tentang ekonomi cryptocurrency.

Sementara itu, orang yang datang ke lounge Onyx dapat membuat avatar mereka sendiri dengan memilih jenis kelamin, warna kulit, gaya rambut, pakaian, dan aksesori.

Selain itu, nama Onyx Lounge, diberikan berdasarkan sistem pembayaran blockchain in-house JPMorgan, yang diluncurkan bersamaan dengan laporan dari bank yang merinci jenis peluang bisnis yang dapat dijelajahi oleh perusahaan di metaverse.

Pada laporan tersebut menunjukkan bahwa JP Morgan dapat beroperasi seperti bank di dunia maya seperti halnya di dunia nyata, karena dunia maya di metaverse memiliki populasi, PDB, dan mata uangnya sendiri.

Mirip dengan perannya sebagai bank, perusahaan tersebut dapat memfasilitasi pembayaran lintas batas, valuta asing, penciptaan aset keuangan, perdagangan dan penyimpanan.

Karena kemungkinan ini, JP Morgan berencana untuk "memainkan peran utama dalam metaverse," menurut laporan tersebut. Lebih khusus lagi, bank dapat membantu mengatasi masalah seperti validasi akun, status transaksi, dan pencegahan penipuan, serupa dengan cara menangani klien di dunia nyata.

“Apakah itu pemain teknologi besar seperti Microsoft yang berencana untuk membuat ruang kerja yang realistis, atau Ariana Grande mengadakan konser di Fortnite, peluang yang disajikan oleh dunia digital interaktif tampaknya tidak terbatas” berdasarkan pernyataan laporan tersebut.

Perusahaan juga ingin melayani pembuat konten yang berencana untuk mengkomersialkan kreasi mereka dalam metaverse, apakah itu meminjamkan uang untuk membiayai mereka atau membuat dompet virtual bagi mereka untuk mengumpulkan komisi. Lounge tersebut bisa menjadi pijakan bagi JP Morgan untuk mendalami perannya di dunia digital.

Selain itu, berdasarkan laporan peluang bisnis JP Morgan tersebut, juga menyatakan "Metaverse kemungkinan akan menyusup ke setiap sektor dalam beberapa cara di tahun-tahun mendatang, dengan peluang pasar diperkirakan lebih dari $1 triliun dalam pendapatan tahunan," sementara juga menyoroti bahwa $54 miliar telah dihabiskan untuk barang virtual setiap tahun, dua kali lipat jumlah yang dihabiskan untuk membeli musik.

Laporan tersebut mencatat harga rata-rata tanah virtual berlipat ganda dari $6.000 menjadi $12.000 antara bulan Juni dan Desember tahun lalu dan memperkirakan bahwa pengeluaran iklan dalam game akan mencapai $18,4 miliar per tahun pada tahun 2027.


Baca Juga : Facebook Bayar $90Juta Demi Mengakhiri Gugatan Pelacakan Pengguna

JPMorgan telah mengidentifikasi aliran kreator individu yang menggunakan Web3 untuk memonetisasi pekerjaan mereka dengan cara baru sebagai kekuatan pendorong di belakang ekonomi baru yang sedang dibangun di metaverse.

"Ekonomi kepemilikan demokratis ini ditambah dengan kemungkinan interoperabilitas, dapat membuka peluang ekonomi yang sangat besar, di mana barang dan layanan digital tidak lagi terikat pada platform atau merek game tunggal."

Peningkatan adopsi arus utama metaverse juga didorong oleh minat dari merek besar, catat JPMorgan, mengutip langkah Adidas dan Nike untuk menciptakan produk dan etalase berbasis token yang tidak dapat dipertukarkan serta Samsung membuka toko metaverse sebagai langkah maju yang sangat besar dalam adopsi.

Laporan JPMorgan tidak semuanya positif, namun pada bagian yang berjudul "Menavigasi sensasi vs. kenyataan," dalam laporan tersebut menyatakan,

"Meskipun banyak kegembiraan tentang kemungkinan Metaverse, untuk memungkinkan potensi penuhnya untuk keterlibatan, pembangunan komunitas, ekspresi diri dan perdagangan, area utama perlu dikembangkan dan dimatangkan lebih lanjut,”

Pernyataan tersebut merujuk pada kekurangan dalam pengalaman pengguna secara keseluruhan, kinerja avatar yang buruk, dan kesulitan dengan infrastruktur komersial.

Disamping itu, ambisi lainnya datang dari perusahaan raksasa makanan cepat saji, Amerika McDonald's, yang pada awal bulan ini, mengajukan 10 merek dagang di US Patent and Trademark Office (USPTO) untuk memasuki metaverse.

Dalam pengajuannya, raksasa makanan cepat saji itu berencana untuk menawarkan "restoran virtual yang menampilkan barang-barang aktual dan virtual" dan "mengoperasikan restoran virtual yang menampilkan pengiriman ke rumah."

Alih-alih makanan fisik, makanan dan minuman virtual akan tersedia di McD virtual sebagai file multimedia yang dapat diunduh yang akan memiliki karya seni, teks, audio, video, dan token non-fungible (NFT).

Merek dagang lain yang diajukan McD adalah untuk layanan ritel online yang menampilkan barang virtual. McD di metaverse akan menjalankan restoran virtual yang menggambarkan barang-barang aktual dan virtual, menjalankan restoran virtual online yang menampilkan pengiriman ke rumah.

(fnj)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar