CDC Kirimkan Vaksin Monkeypox Kepada Warga yang Beresiko Terpapar

Adhima Ratnaningtyas . June 06, 2022

Foto: UK Health Security Agency

Teknologi.id - Virus Cacar Monyet atau Smallpox semakin menyebar jangkauannya, meskipun memang belum masuk ke tahap mengkhawatirkan, tetapi vaksin tetap dibutuhkan. Untuk itu, pihak Centers for Disease Control and Prevention atau CDC Amerika Serikat berkata mereka akan menyalurkan sejumlah vaksin kepada warga yang beresiko tinggi terpapar. Menurut mereka, meski tingkat bahaya virus ini rendah, tetap saja lebih baik mencegah daripada mengobati.

Direktur CDC, Dr. Rochelle Walensky mengatakan bahwa Amerika Serikat telah bersiap menghadapi virus sejenis Monkeypox ini dan memiliki jutaan stok vaksin yang tersimpan rapat. Meskipun begitu, Dawn O’Connell leader the Health and Human Services office di Amerka Serikat tidak akan membeberkan berapa spesifiknya angka stok vaksi yang dimiliki Amerika Serikat.

Sebelumnya, pejabat CDC, Dr. Jennifer McQuiston, menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki stok 1000 vaksin Jynneos yang tersedia. Namun, perusahaan yang memroduksi vaksin tersebut, Bavarian Nordic, mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki stok sedikitnya 1 juta dosis yang disimpan di Amerika Serikat dan Denmark sejak April 2020 lalu. Awalnya, Amerika Serikat memesan 30 juta vaksin sejak 2010, tapi 28 juta dosis berakhir kadaluarsa. Pihak Bavarian Nordic sendiri berencana untuk meningkatkan produksi dan berencana memroduksi vaksin Monkeypox sebanyak 30 juta dosis selama setahun.

Untuk jenis vaksinnya sendiri, ada 2 pilihan yang bisa dipilih, yaitu Jynneos dan ACAM2000. Jynneps dipilih karena memiliki efek samping yang lebih sedikit dan juga lebih aman. ACAM2000 sendiri sebelumnya digunakan untuk mengobati cacar yang lebih parah, sehingga efek sampingnya pun akan lebih parah dibanding Jynneos.

Sementara itu, saat ini, Pemerintah Amerika Serikat telah mendistribusikan 1200 vaksin Monkeypox untuk warga yang memiliki kemungkinan tinggi terpapar virus tersebut. Untuk kasus Monkeypox sendiri, menurut WHO, kasusnya sudah melebihi 550 total pasien di 20 negara berbeda. Meski dikatakan sebagai penyebaran virus, namun penyebaran virus kali ini diharapkan akan lebih terkendali karena ilmuwan sudah meneliti virus Monkeypox ini selama bertahun-tahun, berbeda dengan COVID-19 yang benar-benar baru.

(AR)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar