Planet Kembaran Jupiter Terdeteksi Lewat Teleskop Pensiunan NASA

Nurul Afifah . April 07, 2022



Foto: wikimedia


Teknologi id – NASA berhasil mendeteksi planet yang mirip Jupiter dalam penemuan terbarunya. NASA menemukannya dengan menggunakan teleskop luar angkasa Kepler milik NASA dimana instrumen tersebut telah pensiun empat tahun lalu.

Pengamatan Teleskop Kepler

Sebelumnya, Teleskop Kepler pernah mengamati bagian yang jauh dari galaksi Bima Sakti untuk exoplanet yang sebelumnya belum ditemukan antara 2009 hingga 2018. Data yang didapat Kepler sangat melimpah yang telah dikumpulkan selama hampir satu dekade layanan dan para peneliti terus membuat penemuan baru setelah pesawat itu pensiun dari layanan.


Tim astronom menguraikan data lama yang dikumpulkan oleh Kepler Space Telescope.


Tim astrofisikawan internasional menggunakan teleskop yang berhenti beroperasi pada 2018 itu untuk menemukan planet ekstrasurya yang mirip dengan Jupiter.


Terletak 17.000 tahun cahaya dari Bumi, itu menjadikannya planet ekstrasurya terjauh yang pernah ditemukan oleh Kepler.


Disebut K2-2016-BLG-0005Lb, planet tersebut ditemukan dalam data yang direkam Kepler pada 2016. Sepanjang misinya, Kepler sendiri telah mengamati lebih dari 2.700 planet yang sekarang telah dikonfirmasi.


Baca juga: NASA Berhasil Temukan 2.200 Eksoplanet Baru


Sebagai catatan, exoplanet terjauh yang kita ketahui disebut SWEEPS-4 b, raksasa gas 3,8 kali ukuran Jupiter, terletak 27.723 tahun cahaya dari Bumi. SWEEPS-4 b ditemukan pada tahun 2006.


K2-2016-BLG-0005Lb yang baru ditemukan adalah exoplanet terjauh yang ditemukan Teleskop Kepler selama perjalanannya (yang kita ketahui sejauh ini), tetapi itu bukan objek luar angkasa terjauh yang ditemukan para ilmuwan melalui proses alternatif.

Proses Penemuan Objek

Objek yang jauh di luar angkasa umumnya ditemukan menggunakan salah satu dari lima proses yang berbeda. Planet SWEEPS-4 b yang disebutkan di atas ditemukan menggunakan metode yang disebut "transit", yang berarti kita dapat mengetahui bentuk umum, jarak, dan komposisinya dengan mengamati transisinya di depan masing - masing bintang yang diorbitkan.


Jumlah waktu yang dibutuhkan, jumlah cahaya yang terhalang, dan warna cahaya yang dipantulkan dapat memberi petunjuk kepada para astronom tentang banyak informasi berharga.


Menurut Eamonn Kerins, astronom di University of Manchester, Kepler juga dapat mengamati tanpa gangguan cuaca, memungkinkan kami untuk menentukan secara tepat massa dan planet ekstrasurya serta jarak orbit dari bintang induknya.


Baca juga: Teleskop Antariksa James Webb Akhirnya Tiba di Orbit Terakhir


Dari cahaya yang dibelokkan dari bintang jauh diharapkan dapat mendeteksi sebuah planet ekstrasurya, tim juga menggunakan pengamatan selama tiga bulan yang dilakukan teleskop ini terhadap bentangan langit tempat planet berada. 


“Untuk melihat efeknya membutuhkan keselarasan yang hampir sempurna antara sistem planet latar depan dan bintang latar belakang," ujar Kerins. 


"Peluang bintang latar belakang terpengaruh dengan cara ini oleh sebuah planet adalah puluhan hingga ratusan juta berbanding satu. Tapi ada ratusan juta bintang menuju pusat galaksi kita. Jadi Kepler hanya duduk dan mengamati mereka selama tiga bulan," lanjut dia. 

Penemuan Kembaran Jupiter

Tim yang dipimpin oleh David Specht itu memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai pelensaan mikro gravitasi untuk menemukan planet ekstrasurya.


Para ilmuwan menemukan bahwa planet tersebut adalah kembaran Jupiter dalam hal massa dan posisinya dari Matahari, yaitu sekitar 60 persen dari massa Matahari.


Selain senang menemukan sebuah planet ekstrasurya dengan instrumen yang telah pensiun, pekerjaan tim ilmuwan ini penting karena Kepler sebenarnya tidak dirancang untuk menemukan planet ekstrasurya menggunakan fenomena ini.


"Kepler tidak pernah dirancang untuk menemukan planet menggunakan lensa mikro, jadi ini sungguh menakjubkan bahwa teleskop tersebut mampu melakukannya," tambah Kerins, seperti dikutip dari Space.com pada Rabu (6/4/2022).


Baca juga: NASA Ubah Jadwal Kirim Batuan Mars ke Bumi, Kapan?


Tim kemudian bekerja dengan astronom lain di Universitas Manchester McDonald yang mengembangkan algoritma pencarian baru untuk memastikan keberadaan planet baru mirip Jupiter ini. 


Para ilmuwan berharap teleskop di masa depan seperti Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman NASA dan Euclid milik Badan Antariksa Eropa (ESA) dapat membantu para ahli menyelesaikan sensus planet yang dikerjakan Kepler sebelumnya.


(na)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar